www.sekilasnews.id – Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember. Foto/Dok.SindoNews
Selama satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia telah menunjukkan arah baru dalam politik luar negerinya. Dalam waktu yang relatif singkat, Prabowo telah melakukan sejumlah kunjungan diplomatik yang signifikan, memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.
Pentingnya kedaulatan dan kemandirian dalam hubungan internasional menjadi sorotan utama dalam setiap kebijakan yang diambil. Indonesia berupaya memanfaatkan posisinya dalam kancah global dengan menjalin kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara besar.
Keberhasilan Indonesia untuk bergabung dalam BRICS menunjukkan semangat diplomasi yang energik dan progresif. Selama masa kepemimpinan Prabowo, berbagai isu-isu krusial seperti ketahanan pangan dan pertahanan nasional selalu menjadi topik sentral dalam setiap forum internasional yang dihadiri.
Pemahaman Baru Tentang Kedaulatan Indonesia di Kancah Global
Pada tahun ini, Prabowo telah berusaha keras untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat yang mandiri dan berani bersuara. Melalui pidatonya di Sidang Umum PBB, ia menggarisbawahi hak rakyat Palestina untuk merdeka dan menentang segala bentuk kekerasan.
Pernyataan ini menonjolkan citra Indonesia sebagai negara yang proaktif dalam isu-isu kemanusiaan. Respons positif dari berbagai negara menunjukkan bahwa sikap ini efektif dalam membawa nama baik dan citra positif bagi Indonesia.
Dalam forum-forum internasional, Prabowo tidak hanya menekankan aspek kedaulatan, tetapi juga menciptakan narasi baru tentang keterlibatan Indonesia di kancah diplomasi global. Dia membawa pesan bahwa Indonesia ingin menjadi bagian dari solusi bagi masalah-masalah dunia.
Paradigma yang Berbeda dalam Politik Luar Negeri
Di balik semua ini, terdapat ketegangan antara dua paradigma utama dalam politik luar negeri: realisme dan konstruktivisme. Prabowo, dengan latar belakang militernya, cenderung berpegang pada pandangan realisme klasik.
Dalam pandangan ini, dunia dianggap sebagai arena anarki yang penuh dengan ancaman, di mana kekuatan menjadi penting untuk kelangsungan hidup. Kedaulatan menjadi sinonim dengan kemampuan untuk bertahan dalam kondisi yang berbahaya.
Namun, ada lapisan lain yang membentuk politik luar negeri Indonesia, yaitu konstruktivisme moral yang diwariskan oleh Sukarno. Dalam tradisi ini, diplomasi dilihat sebagai perjuangan untuk keadilan dan kemanusiaan.
Menemukan Keseimbangan Antara Realisme dan Konstruktivisme
Sukarno memandang bahwa tatanan internasional tidak hanya sekadar pertarungan kekuasaan, tetapi juga sebagai panggung bagi perjuangan kemanusiaan. Melalui pemikiran ini, gagasan Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok lahir, menunjukkan bahwa kedaulatan juga dapat berarti keberanian dalam berpikir dan bertindak.
Oleh karena itu, kedaulatan Indonesia tidak hanya terletak pada aspek teritorial, tetapi juga pada kemampuan untuk berdiplomasi secara kreatif dan adaptif dalam menghadapi tekanan dari kekuatan besar. Politik luar negeri Indonesia harus tetap berakar dalam nilai-nilai kemanusiaan.
Prabowo perlu menemukan keseimbangan antara kedua paradigma ini agar Indonesia dapat terus eksis dengan cara yang relevan dan berpengaruh di pentas dunia. Hal ini bukan hanya tugas presiden, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.


































