www.sekilasnews.id – Para sandera Israel yang dibebaskan Brigade Al-Qassam diserahkan kepada tim Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Deir al-Balah, Gaza, pada 13 Oktober 2025. Foto/Ashraf Amra/Anadolu Agency
Tentara tersebut, Matan Angrest, mengatakan dalam wawancara pertamanya setelah dibebaskan, yang disiarkan Channel 13 Israel, bahwa ia telah meminta para penculiknya membawakannya tefillin (kotak kulit kecil yang dikenakan di dahi saat berdoa), siddur (buku doa), dan Taurat.
Ia menambahkan Hamas memberinya barang-barang yang diminta, yang diperoleh kelompok tersebut dari tempat-tempat di mana tentara Israel berada di Gaza.
Angrest menjelaskan ia melaksanakan ibadah tiga kali sehari di dalam terowongan dan selamat dari beberapa serangan udara Israel yang menargetkan area tempat ia ditahan.
Hamas telah berulang kali mengatakan mereka melakukan segala upaya untuk melindungi nyawa para tahanan.
Dalam pernyataannya, Angrest menggambarkan pengalaman sulit yang ia alami selama masa penahanannya. Meskipun situasi yang sulit, ia berupaya untuk tetap terhubung dengan keyakinannya agar bisa bertahan dalam kondisi yang penuh tekanan.
Di dalam sistem terowongan yang gelap dan sempit, Angrest melakukan praktik keagamaan yang menjadi sandaran mental baginya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya kepada kelompok tersebut meskipun situasi di sekitarnya sangat mengkhawatirkan.
Pengalaman Tentara Israel Selama Penahanan dalam Terowongan Gelap
Selama berada dalam penahanan, Angrest tidak hanya mengalami tekanan fisik, tetapi juga emosional yang mendalam. Ia merasa terasing dari keluarganya dan kehidupan normal yang ia jalani sebelumnya.
Setiap hari, Angrest menjalankan ritual keagamaan yang memberinya kekuatan mental. Praktik tersebut menjadi bentuk pertahanan spiritual yang membantunya tetap tegar menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Sementara itu, latar belakang konflik di kawasan tersebut membuat situasi semakin rumit. Angrest mengamati bagaimana ketegangan dan kekerasan terus melanda wilayah itu, mempengaruhi banyak nyawa tanpa pandang bulu.
Praktek Ibadah sebagai Sumber Kekuatan Mental
Tentara Israel itu mengungkapkan bagaimana pentingnya melakukan ibadah secara rutin baginya. Meskipun terjebak di dalam terowongan, ia tidak memandangnya sebagai penghalang untuk menjalani keyakinannya.
Ibadah sehari-hari menjadi momen berharga yang membantunya bersyukur dan berdoa untuk keselamatan dirinya dan para tahanan lainnya. Dengan mengingat doa-doa tersebut, ia merasa lebih kuat dalam menghadapi berbagai tekanan psikologis.
Dalam pengalaman pahitnya, Angrest menemukan cara untuk mengubah situasi yang gelap menjadi harapan. Ibadahnya menjadi simbol keteguhan dan daya juang di tengah ketidakpastian.
Pernyataan Hamas tentang Perlindungan Tahanan
Hamas sendiri telah berulang kali menyampaikan komitmennya terkait perlindungan para tahanan. Mereka menyatakan melakukan semua yang mungkin dilakukan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan para sandera yang mereka miliki.
Pernyataan tersebut tentunya menjadi faktor penting dalam memengaruhi persepsi publik terhadap mereka. Meskipun banyaknya kritik yang diarahkan pada kelompok tersebut, mereka berusaha menjelaskan bahwa mereka ingin memperlihatkan sisi kemanusiaan.
Namun, langkah-langkah yang diambil Hamas sering dipandang dengan skeptis. Banyak pihak yang meragukan niat mereka di balik semua tindakan yang dilakukan, termasuk dalam hal perlindungan tahanan.


































