www.sekilasnews.id – Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengambil langkah signifikan dengan mengirimkan 120 mahasiswa dari Politeknik Statistika STIS untuk melakukan pendataan di wilayah Sumatera yang terdampak bencana. Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan data yang akurat dan relevan untuk mendukung upaya pemulihan di daerah-daerah yang terkena dampak.
Pelepasan para mahasiswa tersebut dilakukan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan melibatkan pesawat C130 Hercules TNI AU. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari misi kemanusiaan yang selaras dengan keahlian yang dimiliki oleh para mahasiswa.
Dalam sambutannya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pendataan yang dilakukan oleh mahasiswa STIS akan memberikan kontribusi yang signifikan kepada statistik kebencanaan. Data yang dikumpulkan diharapkan bisa membantu dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana secara lebih efisien.
Peran Mahasiswa dalam Pendataan Pascabencana di Sumatera
Dari total 510 mahasiswa yang diterjunkan, terdiri dari 227 pria dan 283 wanita, sebagian dari mereka akan berangkat menggunakan pesawat komersial. Para mahasiswa diatur untuk bertugas di beberapa provinsi, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung pada tahun 2026, memadukan pendidikan dengan penerapan langsung di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat memainkan peran aktif dalam membantu masyarakat yang terkena dampak bencana.
Amalia menegaskan bahwa data yang dihasilkan akan sangat berharga dan berperan dalam mempercepat pemulihan pascabencana. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman praktis, tetapi juga berkontribusi pada masyarakat luas.
Integrasi Data dalam Upaya Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pendataan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas yang dilakukan oleh pemerintah dalam kerangka Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi. BPS mengambil posisi sebagai koordinator dalam aspek pengelolaan data yang berkaitan dengan kegiatan kemanusiaan ini.
Dalam konteks ini, keputusan presiden yang mengatur Satuan Tugas menjadi landasan kuat bagi kolaborasi antara berbagai institusi. Langkah ini menunjukkan bahwa data adalah alat penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang tepat dan cepat dalam situasi darurat.
Dengan adanya data yang akurat, diharapkan proses pemulihan bisa lebih terarah dan menyeluruh, memberikan perhatian lebih kepada wilayah-wilayah yang paling membutuhkan bantuan. Inisiatif ini juga mencerminkan sinergi yang dibutuhkan antara lembaga pemerintah dan pendidikan tinggi.
Keterlibatan Aktif dalam Misi Kemanusiaan
Selama menjalankan tugas ini, mahasiswa akan mendapatkan keterampilan yang tidak hanya bermanfaat dalam dunia pendidikan tetapi juga dalam kehidupan nyata. Pendanaan bagi kebutuhan di lapangan juga menjadi perhatian supaya proses pendataan bisa berjalan dengan efektif.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami lebih dalam tentang bagaimana bencana alam mempengaruhi masyarakat. Selain itu, keterlibatan langsung ini juga menjadi kesempatan untuk belajar tentang manajemen risiko dan respons bencana.
Amalia juga menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi kegiatan serupa di masa mendatang. Pengalaman yang didapat mahasiswa bisa dijadikan materi pembelajaran untuk mengembangkan keahlian mereka di bidang statistik dan pengelolaan data.


































