www.sekilasnews.id – Forum Ngkaji Pendidikan yang digelar Gerakan Sekolah Menyenangkan di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, pada Sabtu, 20 Desember 2025, dihadiri oleh lebih dari 500 guru dari berbagai penjuru Indonesia. Pertemuan ini menjadi momentum untuk merenungkan esensi pendidikan di Indonesia, apakah masih bertujuan membentuk manusia berkarakter atau sekadar menghasilkan tenaga kerja.
Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan, Muhammad Nur Rizal, menyatakan bahwa tema “Human & Education Reset” dipilih karena pendidikan selama ini terjebak pada perbaikan yang bersifat teknis, sementara aspek kemanusiaan sering kali diabaikan. Menurutnya, konsep reset bukanlah tentang memulai dari nol, tetapi mengenai menata ulang sistem pendidikan agar kembali mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar.
Lebih lanjut, Rizal menjelaskan bahwa saat ini, krisis yang dihadapi bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kurangnya nalar dan kebijaksanaan. Untuk menggambarkan hal ini, Rizal menggunakan analogi dari letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 yang menyebabkan sejumlah dampak besar terhadap kehidupan manusia di seluruh dunia.
Merenung tentang Esensi Pendidikan di Era Modern
Pendidikan di Indonesia saat ini harus merenungkan kembali tujuan dan nilai-nilainya. Pertanyaan yang krusial adalah, apakah pendidikan masih mengedepankan aspek kemanusiaan? Atau lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pasar tenaga kerja? Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh para praktisi pendidikan.
Menurut Rizal, banyak sistem pendidikan saat ini mengabaikan esensi mendasar dari kemanusiaan. Ketika pendidikan hanya bertujuan untuk mencetak pekerja, maka banyak nilai-nilai penting seperti empati, kreativitas, dan kolaborasi yang berisiko hilang. Hal ini tentu berbahaya bagi perkembangan masyarakat secara keseluruhan.
Selain itu, Rizal lalu menggambarkan bagaimana letusan Gunung Tambora bukan hanya bencana alam, tetapi juga mencerminkan ketidaksiapan manusia dalam menghadapi perubahan besar. Ini mengisyaratkan bahwa pendidikan seharusnya membekali manusia dengan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan, bukan sekadar memberikan pengetahuan teknis.
Pentingnya Memperkuat Fondasi Kemanusiaan dalam Pendidikan
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal, penting untuk memperkuat fondasi kemanusiaan di dalamnya. Alih-alih hanya berfokus pada pencapaian akademis dan keterampilan teknis, institusi pendidikan harus mencakup pengembangan karakter dan pemahaman emosional. Pendidikan harus membangun manusia yang mampu berempati dan berpikir kritis.
Dalam konteks ini, Rizal juga menyoroti betapa pentingnya peran guru sebagai pembimbing dalam menciptakan iklim belajar yang suportif. Guru harus memiliki visi yang jelas tentang masa depan generasi muda dan mampu meneruskan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelajaran yang diajarkan. Sebab, mereka adalah garda terdepan dalam mencetak generasi yang peka dan peduli terhadap masalah sosial.
Selain itu, Rizal mengingatkan bahwa pendidikan di Indonesia harus mampu menguatkan kesadaran lingkungan. Dengan kondisi bencana ekologis yang semakin mengkhawatirkan, seperti deforestasi di Sumatera, sudah saatnya pendidikan mengambil peran dalam menyadarkan generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Ini merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat diabaikan.
Inovasi dalam Pendekatan Pembelajaran yang Berorientasi Kemanusiaan
Inovasi dalam pendekatan pendidikan sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan yang lebih luas. Pendekatan yang berbasis kemanusiaan harus dijadikan sebagai dasar dalam merancang kurikulum dan metode pengajaran. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek, yang mempertemukan teori dan praktik dalam konteks kehidupan nyata.
Selain itu, kolaborasi antar sekolah, komunitas, dan institusi lain juga penting untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Dengan melibatkan berbagai pihak, pendidikan bisa menjadi lebih nyata dan relevan. Siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga terpanggil untuk terlibat dalam kegiatan masyarakat.
Penggunaan teknologi dalam pendidikan juga dapat menjadi pendorong inovasi. Namun, teknologi harus digunakan secara bijaksana, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, penggunaan platform online untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antar siswa dari latar belakang yang berbeda dapat membuka wawasan baru dan memperkaya perspektif mereka.


































