www.sekilasnews.id – Aplikasi Face. FOTO/ Daily
Rusia baru-baru ini mengambil langkah drastis dengan melarang fitur panggilan video FaceTime dari Apple. Keputusan ini muncul sebagaimana pihak berwenang mengklaim bahwa fitur tersebut dapat disalahgunakan untuk tindakan kriminal dan terorisme.
Ini bukan pertama kalinya Rusia memblokir aplikasi asing. Sejak invasi ke Ukraina, berbagai layanan populer telah menjadi target larangan pemerintah, menciptakan efek domino di dunia digital.
Alasan di Balik Larangan FaceTime oleh Rusia
Menurut Roskomnadzor, lembaga pengawas komunikasi Rusia, FaceTime digunakan untuk merencanakan aktivitas teroris. Pihak berwenang menggambarkan platform tersebut sebagai risiko nyata bagi keamanan nasional.
Pengguna Apple di Rusia telah mengeluhkan kesulitan dalam menggunakan layanan ini. Ketika mereka mencoba melakukan panggilan, layar perangkat menunjukkan notifikasi “Pengguna tidak tersedia”, menunjukkan bahwa pemerintah sudah memblokir akses tersebut.
Laporan lain mengindikasikan bahwa kekhawatiran ini tidak hanya berlaku untuk FaceTime. Beberapa aplikasi lainnya juga telah diwarnai tuduhan serupa, menambah daftar panjang aplikasi yang terblokir di negara tersebut.
Imbas Larangan Terhadap Aplikasi Lain di Rusia
Selain FaceTime, Roskomnadzor juga melarang akses ke Roblox baru-baru ini. Aplikasi permainan ini dicap sebagai penyebar konten ekstremis dan propaganda mengenai LGBTQ+.
Sejak konflik dengan Ukraina dimulai, banyak aplikasi asing mengalami masa sulit di pasar Rusia. Keputusan untuk memblokir telah merugikan sejumlah besar pengguna yang mengandalkan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menarik untuk dicatat bahwa keputusan ini mencerminkan upaya lebih besar Rusia untuk mengontrol informasi. Dengan membatasi akses penggunaan aplikasi internasional, pemerintah berusaha menjaga narasi yang lebih aman dan terkendali di dalam negeri.
Sejarah Pemblokiran Aplikasi Oleh Rusia
Langkah Rusia dalam memblokir aplikasi bukanlah hal baru. Dua tahun lalu, pemerintah melarang pegawai negeri sipil menggunakan perangkat Apple karena tuduhan gaduhan intelijen. Alasan tersebut diduga berkaitan dengan pengintaian yang dilakukan oleh pemerintah AS.
Selama bertahun-tahun, kebijakan pemblokiran ini telah berkembang. Dari platform media sosial hingga aplikasi komunikasi, hampir semua layanan besar pernah terancam pembatasan serupa.
Dengan terus berlanjutnya dinamika geopolitik, tampaknya larangan terhadap aplikasi dan layanan asing akan tetap menjadi hal yang umum. Ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pengguna yang berusaha mengakses informasi dari sumber luar.


































