www.sekilasnews.id – Militer Venezuela tidak melawan saat diserang AS. Foto/X/@warintel4u
CARACAS – Ketika serangan besar-besaran terhadap Venezuela terjadi pada 3 Januari 2026, pertanyaan mendasar yang muncul adalah tentang kekuatan Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB). Dengan lebih dari 150.000 personel, seharusnya mereka memiliki kapasitas untuk merespons, tetapi kenyataannya jauh berbeda dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Analisis menunjukkan bahwa pasukan Venezuela terjebak dalam situasi di mana teknologi dan struktur internal mereka tidak mampu menghadapi serangan tersebut. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dinamika internal FANB yang berkontribusi pada kurangnya respons ini.
Banyak yang berspekulasi bahwa ini merupakan contoh dari “badai sempurna” yang menggabungkan berbagai faktor eksternal dan internal. Makalah ini akan menyelidiki alasan di balik ketidakmampuan FANB untuk melawan serangan tersebut.
Alasan Mengapa Militer Venezuela Tidak Memiliki Respons Terhadap Serangan AS
Salah satu alasan utama mengapa angkatan bersenjata Venezuela tidak melawan adalah karena serangan elektronik yang signifikan. Penyerangan ini tidak hanya mempengaruhi peralatan tetapi juga moral para prajurit di lapangan. Dalam situasi perang modern, kontrol informasi sangat penting.
Serangan elektronik besar-besaran dilakukan sebelum serangan fisik, yang menutup akses ke sistem komunikasi vital. Hal ini menciptakan kekacauan di lapangan, dengan para komandan terhalang dalam mengambil keputusan yang tepat. Situasi ini memperburuk ketidakpuasan yang sudah ada dalam tubuh militer.
Krisis ini diperparah oleh kegagalan untuk memprediksi dan memitigasi ancaman eksternal. Jelas bahwa FANB tidak memiliki persiapan yang memadai untuk menghadapi ancaman besar seperti ini, yang mencakup ketidakmampuannya untuk mempertahankan diri terhadap teknologi mutakhir yang digunakan oleh musuh.
Pembelotan dan Krisis Moral di Kalangan Prajurit
Pada saat serangan terjadi, moral para prajurit di FANB berada dalam titik terendah. Praktisnya, mereka berjuang dengan masalah finansial dan tekanan psikologis yang signifikan. Dengan gaji bulanan yang hanya sebesar USD 100, banyak dari mereka merasa dirugikan dan tidak bersemangat untuk berjuang.
Ketidakpuasan ini menyebabkan meningkatnya angka pembelotan di kalangan anggota militer. Setelah ledakan pertama, sejumlah besar tentara memilih untuk melarikan diri daripada terlibat dalam pertempuran. Situasi ini menunjukkan seberapa jauh kepercayaan diri dalam struktur komando telah runtuh.
Serangan kilat AS yang berhasil menangkap pemimpin negara, termasuk Maduro, menjadi titik balik. Dengan pemimpin utama yang terjebak, banyak prajurit di lapangan merasa kehilangan arah dan tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, menciptakan keadaan ketidakpastian di dalam tubuh militer.
Negosiasi Rahasia antara Jenderal dan AS
Sejumlah analis militer mengemukakan bahwa mungkin saja terjadi kesepakatan di balik layar antara pihak AS dan beberapa jenderal Venezuela. Beberapa laporan dari sumber oposisi mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dalam reaksi militer. Keheningan ini bisa jadi menunjukkan adanya negosiasi rahasia.
Hubungan antara militer dan pemerintah kadang kala tidak semulus yang terlihat. Dengan adanya negosiasi semacam ini, beberapa jenderal mungkin merasa lebih loyal kepada kepentingan asing daripada kepada negara sendiri. Ini menciptakan kesan bahwa FANB tidak sepenuhnya berkomitmen pada pertahanan negara.
Situasi ini memunculkan spekulasi akan adanya pengkhianatan dari dalam. Hal ini tidak hanya memperburuk situasi moral di kalangan pra-jurit, tetapi juga menunjukkan bahwa FANB mungkin tidak sekuat yang diperkirakan, baik dari segi komitmen maupun persiapan.
Kekurangan Pangkalan Militer dan Infrastruktur Pertahanan
Di luar masalah moral, kekurangan infrastruktur yang baik juga menjadi faktor utama. Pangkalan militer yang ada dikatakan tidak menyediakan dukungan yang memadai dalam menghadapi ancaman yang berasal dari luar. Banyak fasilitas yang tidak dilengkapi dengan teknologi modern yang diperlukan untuk melawan serangan serupa.
Hal ini menjadi perhatian utama ketika angkatan bersenjata harus beroperasi di bawah tekanan tinggi. Dengan sistem pertahanan yang kadaluarsa dan kurangnya pemeliharaan, menjadi sulit bagi FANB untuk membangun kepercayaan dalam melawan agresi asing.
Konsekuensinya, serangan yang seharusnya bisa ditahan justru menjadi peluang bagi musuh untuk melakukan serangan penuh. Situasi ini menunjukkan pergeseran yang dramatis dari kekuatan militer di kawasan yang semestinya bisa dibanggakan oleh FANB.


































